Perubahan Mental Orang yang Berpuasa
Nama : Efi Arfiani
Nim : 12114013
Filsafat Ilmu
Banyak orang yang beranggapan bahwa puasa itu menyakitkan diri sendiri dengan harus menahan makan dan minum. Tetapi anggapan itu salah, buktinya berpuasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga semakin kuat dan akan menyehatkan tubuh. Bukan cuma menyehatkan fisik, tetapi juga sehat secara kejiwaan.
Nafsu pada diri sendiri itu sangat dominan, sementara berpuasa bisa mengendalikan nafsu. Orang yang berpuasa nafsunya tidak dominan. Berpuasa tujuannya mengendalikan nafsu manusia, bukan mematikan nafsu manusia atau mematikan raga manusia. Sedangkan kesehatan mental atau bidang psikologi, baik itu pada kalangan ilmuan maupun orang awam berfokus pada pengendalian nafsu.
Fenomena yang ada dalam perkembangan pemikiran dan peradaban manusia tidak sama, disebabkan tingkat kepuasan individu yang berbeda. Pada tujuan berpuasa yaitu dapat mengendalikan hawa nafsu, seharusnya ada pembatas antara pengendalian pada diri manusia sehingga memiliki sebatas kemampuan. Seorang ahli psikologi agama, Zakiah Daradjat menilai pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi seseorang dari gangguan jiwa dan dapat pula mengembalikan jiwa bagi orang yang gelisah.
Kegelisahan dan kekecewaan yang tidak berujung pangkal itu, umumnya berakal dari ketidakpuasan dan kekecewaan. Agama dapat menolong seseorang untuk bisa menerima kekecewaan dengan jalan dan ridho Allah, bahwa kebahagian akan dirasakan di kemudian hari. Ketika berpuasa kecemasan akan hilang. Ketidakpuasan dan rasa kecewa juga akan hilang, sebab orang berpuasa itu selalu bahagia yakni ketika berbuka dan ketika nanti bertemu Allah SAW di akhirat.
Beribadah dalam ajaran islam meliputi shalat, bersedekah, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji dan lain sebagainya. Bila dilihat ibadah puasa memberikan ketenangan kepada orang-orang yang berpuasa. Bila ketenangan jiwa itu tercipta, maka hikmah dari ibadah puasa itu menciptakan kesehatan jiwa.
Secara psikologis, berpuasa menjadikan diri mampu mengendalikan nafsu yang ada pada dirinya. Berpuasa berpengaruh positif pada rasa (emosi), cipta (rasio), karsa (will), karya (performance), dan menjadikan pribadi yang lebih sabar dan ikhlas. Pada akhirnya berpuasa menyehatkan mental karena ada latihan kejiwaan yang dilakukan dengan jujur menahan lapar dan dahaga meskipun sedang seorang diri, tidak ada orang yang mengawasi tetapi yakinlah bahwa Allah mengetahuinya. Berpuasa akan menghilangkan kegelisahan dan gangguan jiwa.
Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose). Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.
Secara pandangan secara psikologi islam, penyakit mental yang berjangkit pada diri manusia antara lain Riya'. Penyakit riya' mengandung tipuan, sebab menyatakan sesuatu yang tidak sebenarnya, orang yang berbuat riya' mengatakan atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan hakikat yang sebenarnya. Kemudian hasad dan dengki yakni suatu sikap melahirkan sakit hati apabila orang lain mendapatkan kesenangan dan kemulian, dan ia menginginkan kesenangan dan kemulian itu hilang dari orang tersebut dan beralih kepada dirinya.
Secara psikologis, kesehatan mental umumnya selalu terintegrasi dalam pengembangan pribadi dalam artian kondisi kejiwaan. Perkembangan kejiwaan yang normal secara emosional, secara intelektual dan sosial. Berdasarkan penelitian, berpuasa memberikan pengaruh besar bagi penderita gangguan kejiwaan, juga penderita insomnia. Dari segi sosial, berpuasa memberikan sumbangan yang cukup besar. Melaksanakan ibadah puasa karena Allah, memperoleh manfaat yang ganda yakni terhindar dari dosa, mendapatkan pahala dan keuntungan lainnya, memperoleh ketenangan jiwa, mampu mengendalika nafsu untuk memperoleh kepuasan yang tidak terhingga.
Adapun manfaat berpuasa untuk psikologis manusia adalah membantu meningkatkan susasana hati (mood), yang positif. Pada awal berpuasa, tubuh mulai beradaptasi dengan rasa lapar yang melepaskan sejumlah besar katekolamin yang membuat perasaan menjadi lebih baik. Puasa juga dapat meningkatkan kesehatan mental karena pola makan baik akan menjaga hormon kortisol. Hormon kortisol tersebut bisa mengurangi stres. Selain itu tubuh juga lebih banyak memproduksi hormon endorphin. Hormon endophin juga berpengaruh dalam mengurangi stres.
Komentar
Posting Komentar